Potensi Wisata Desa Ketangga

Home – Potensi Desa

Masjid Pusaka Ketangga​

Masjid Darul Falah atau Masjid Pusaka adalah salah satu masjid tertua di Nusa Tenggara Barat, yang terletak di Dusun Otak Desa, Desa Ketangga, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur. Masjid ini dibangun oleh para wali dari bagdad dan dipercaya sebagai masjid ke-44 yang dibangun di dunia. Dibalik dinding-dinding tuanya, tersimpan jejak spiritual yang diyakini menghubungkan massa lalu yang agung dengan kehidupan beragama masyarakat hingga saat ini. Tempat ini menjadi mercusuar dakwah di jantung Kerajaan Selaparang sebagai awal penyebaran islam yang menerangi wilayah sekitarnya dengan ajaran damai dan nilai-nilai keislaman. Masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai lokasi penting bagi raja selaparang untuk bermusyawarah dengan para ulama dan tokoh masyarakat dimana urusan agama dibahas bersama.

Gedeng Raja Selaparang

Gedeng Raja Selaparang adalah bangunan bersejarah yang digunakan oleh raja selaparang sebagai tempat beristirahat, bermeditasi, dan bermusyawarah mengenai urusan pemerintahan dan kehidupan rakyat. Gedeng ini bukan hanya sebagai tempat istirahat, tetapi juga menjadi ruang refleksi dan pengambilan keputusan penting kerajaan. Salah satu ciri khas gedeng adalah pintunya yang dihiasi dengan ukiran burung garuda dan tokoh pewayangan Wongmenak. Ukiran ini memiliki makna simbolis yang kuat. Burung garuda melambangkan kewibawaan dan kekuasaan. Sementara tokoh wongmenak mencerminkan kebijaksanaan dan kearifan dalam kepemimpinan. Omemen ini menggambarkan bahwa kekuasaan raja tidak hanya bersumber dari kekuatan, tetapi juga pada kebijaksanaan dan moralitas dalam kepemimpinan.

Makam Tuan Lebe Selaparang

Tempat ini dipercayai sebagai makam Syaikh Abdul Qadir Jaelani yang dikenal sebagai raden Mandar. Ia pula terkenal dengan sebutan Tuan Lebe. Beliau merupakan seorang ulama besar asal bagdad yang menjadi salah satu tokoh awal penyebaran islam di pulau Lombok. Nama “Mandar “, yang berarti “cepat”, menggambarkan semangat dan kegigihanya dalam menyebarkan dakwah islam secara luas dan intensif diberbagai wilayah. Sebagai tokoh spiritual sekaligus guru masyarakat, Raden Mandar memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai ke islaman dan membentuk dasar kebudayaan religius di Desa Ketangga. Warisan perjuanganya dalam bidang keagamaan terus dikenang dan dihormati oleh masyarakat setempat hingga kini.

Makam Tanjung, Selaparang​

Terletak di Bangket Telaga, Makam Prabu Rangkasari menjadi simbol penting peralihan budaya dan spiritual masyarakat sasak. Prabu Rangkasari adalah raja terkhir kerajaan selaparang sebelum datangnya islam, diyakini mencapai moksa (menghilang secara spiritual) ditempat ini. Menurut tradisi lisan ia mengalami titik balik sejarah setelah ditaklukan dan dibimbing oleh Sunan Prapen ulama yang berasal dari jawa. Setelah memeluk islam, ia mengganti namanya menjadi Prabu Raden Surya Alam, menandai awal baru dalam kepemimpinanya dan kehidupan masyarakat. Kekuasaan kemudian dilanjutkan oleh raden Pelompong (Syyid Zulkarnain) yang meneruskan perjalanan spiritual dan pemerintahan dalam semangat islam. Bangket Telaga kini menjadi tempat ziarah dan refleksi yang merekam momen penting transisi dari era Hindu-Buddha ke era islam di Lombok Timur.

Makam Mamiq Raja

Mamiq raja atau Sayyid Abdul Hamid, dikenal masyarakat sebagai sosok pemimpin bijak dan sakti. Ia dihormati karena perannya besar dalam kehidupan sosial dan spiritual masyarakat ketangga pada massanya. Julukanya “Mamik Raja” berarti “Ayah Raja”. Tanda penghormatan tertinggi bagi tokoh yang dituakan. Salah satu kisah paling dikenal adalah keberhasilanya membelah batu besar demi mengalirkan air ke wilayah hilir. Aksi ini menjadi penyelamat di massa kekeringan panjang dan dikenang sebagai lambang perjuangan serta keberkahan. Hingga kini makam mamiq raja menjadi pusat ritual adat sakral. Saat musim kemarau berkepanjangan warga melakukan jalan kaki dari masjid pusaka menuju makam seraya berdoa memohon hujan. Teradisi ini merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur dan kepercayaan kepada nilai-nilai spiritual.

Tapak Kaki Kuda Raja Selaparang​​

Dalam cerita turun temurun yang hidup dikalangan masyarakat sasak, Raja Selaparang dikenal memiliki seekor kuda sakti bernama kuda semberani kuda ini digambarkan sebagai hewan luar bisasa yang mampu melaju cepat kilat menjadi simbol kekuatan dan keagungan sang raja. Salah satu kisah legendaris menyebutkan bahwa dalam sebuah perjalanan dari gunung rinjani menuju pusat kerajaan selaparang, sang raja menghentakan kaki kudanya pada sebuah batu besar. Hentakan tersebut begitu kuat sehingga meninggalkan jejak telapak kaki kuda diatas batu itu, sebuah peninggalan yang hingga kini masih dapat disaksikan di lokasi ini. Jejak ini dipercayai sebagai bukti keberadaan dan kejayaan massa lalu, serta menjadi bagian penting dari warisan budaya yang terus dijaga dan dihormati oleh masyarakat setempat.

BOOKING NOW

Rencanakan Kunjungan Anda ke Desa Ketangga Sekarang!

Ready to Embrace Nature? Book Your Stay!